Indonesia-China Sepakat Tertibkan Pelaku Industri Pariwisata

SHANGHAI, KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata dan Administrasi Nasional Pariwisata China (CNTA), sepakat untuk menertibkan pelaku industri pariwisata yang tidak profesional dan merugikan wisatawan.

“Kami setuju untuk di-black list, karena pariwisata adalah bisnis yang berbasis pada layanan, sehingga komitmen dan profesionalitas ekosistem ini menjadi taruhan utama agar bisa berkelanjutan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam pertemuan dengan Ketua CNTA Lin Jinzao serangkaian China International Travel Market (CITM) di Shanghai 11-13 November 2016.

(BACA: Biro Perjalanan China Janji Promosikan Indonesia)

Menurut Menpar, operator perjalanan dan agen perjalanan wisata yang melanggar komitmen dengan pelanggannya harus ditindak tegas. Pelaku industri pariwisata yang tidak profesional akan sangat mengganggu dan merusak masa depan bisnis sektor pariwisata.

CNTA telah melakukan beberapa ketentuan untuk menertibkan pelaku industri pariwisata seperti biro perjalanan wisata yang tidak profesional untuk memberikan kenyamanan kepada turis selama berwisata di China.

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Pemandangan di The Bund, salah satu lokasi favorit turis, di Jalan Zhongshan Shanghai, Tiongkok, Minggu (23/8/2015). Selain berfoto, lokasi itu menjadi titik kumpul yang ramai untuk menikmati kota yang bertabur cahaya pada malam hari.

Terkait CITM, Menpar Arief mengatakan, “Pertama kita tentu berterima kasih kepada China karena semakin banyak turisnya yang berkunjung ke Indonesia”.

“Saat ini posisinya sudah nomor satu ke Indonesia, menggeser Singapura, Malaysia, Australia, Jepang dan Korea. Tahun 2019 proyeksi kami adalah 20 juta wisman masuk ke Indonesia, dan sekitar 50 persennya atau 10 juta di antaranya berasal dari China,” katanya.

Terkait itu, kerja sama pariwisata dengan China menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Kemenpar juga akan semakin fokus kepada promosi ‘Great China’ yaitu China, Hongkong dan Taiwan.

(BACA: Garap Turis China dan India, Indonesia Perlu Penerbangan Langsung)

Pada kesempatan tersebut Menpar kembali menekankan program penguatan konektivitas melalui penerbangan langsung yang terus dikembangkan.

Penerbangan langsung dari China ke Indonesia saat ini masih teramat minim, rata-rata 37 persen, jauh dibandingkan Singapura, Malaysia apalagi Thailand yang sudah berada di atas 80 persen.

ARSIP KOMPAS TV Pulau Kemaro di Palembang, Sumatera Selatan.

Menpar juga kembali mengundang investor China untuk menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya di sektor pariwisata.

“Kami undang investor China yang bergerak di sektor pariwisata untuk menanamkan modal ke Indonesia, yang punya atraksi berbasis alam, budaya dan buatan yang sedang berkembang. Saatnya kini untuk investasi jangka panjang di bidang pariwisata,” katanya.

Dalam CITM 2016 Indonesia mempromosikan sepuluh destinasi unggulan antara lain Yogyakarta, Solo, Semarang (Joglosemar), dengan menampilkan Candi Borobudur dan Raja Ampat.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/224300627/indonesia-china.sepakat.tertibkan.pelaku.industri.pariwisata

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>