Jalan Raya Bogor, Dari Pangkalan Kuda Hingga Laksa Lezat

SEBELUM Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, ia disebut membangun akses Batavia-Buitenzorg dulu. Jalan sepanjang 38 kilometer itu jadi akses utama Jakarta-Bogor, hingga Jalan Tol Jagorawi dibangun tahun 1974.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” menyebutkan, pada mulanya Daendels memerintahkan perbaikan dan pelebaran jalan Anyer-Batavia. Hal itu diawali dari lamanya waktu tempuh yang dibutuhkan dari Anyer menuju Batavia yang mencapai empat hari. Setelah diperlebar, waktu tempuh hanya satu hari.

Ia kemudian melanjutkan dengan ruas jalan Batavia-Buitenzorg (Bogor) yang disebut Pram, dibangun tanpa hambatan yang berarti karena medannya yang datar. Hambatan berbeda ditemui saat Daendels membangun ruas jalan Buitenzorg-Karangsembung (wilayah Cirebon) yang harus menembus gunung-gunung tinggi.

(BACA: 5 Tempat Wisata Sekitar Bogor yang “Instagramable”)

Jalan raya Batavia-Buitenzorg disebut Jan Karel Kwisthout dalam buku “Jejak-jejak Masa Lalu Depok” merupakan jalan yang lebih baru dibanding ruas jalan terusan yang sejajar dengan Sungai Ciliwung yang sudah ada pada abad ke-18. Karel mengatakan, jalan yang dibangun Daendels terletak lebih ke timur dan disebut Grote Postweg (Jalan Pos Besar).

Padahal, gagasan membangun Jalan Raya Pos itu baru muncul saat Daendels melakukan perjalanan darat pada 29 April 1808 dari Buitenzorg ke Semarang dan Oosthoek atau Jawa Timur. Dalam perjalanan, ia mengambil keputusan membuat jalan dari Bogor ke Karangsembung sepanjang 250 kilometer.

Berbeda dengan pembangunan Jalan Raya Pos yang banyak kisahnya, seperti adanya kerja paksa rakyat pribumi dan banyaknya jiwa yang dikorbankan, pembangunan jalan raya Bogor atau ruas Batavia-Buitenzorg tidak meninggalkan banyak jejak cerita. Mungkin hal itu disebabkan tidak adanya hambatan berarti yang muncul sebagaimana diungkapkan Pram.

Jalan Batavia-Buitenzorg membentang 38 kilometer dari Cililitan hingga Kedung Halang, Kota Bogor. Namun, penanda kilometer dihitung dari Monas, sehingga totalnya 55 kilometer. Sejajar dengan Jalan Raya Bogor ada saluran buatan, yang kini dikenal sebabai Kalibaru.

Beberapa bangunan tua yang masih tampak di ruas jalan ini ialah Pabrik Tepung Tapioka di Cibinong, Bogor, yang terbesar pada zamannya, juga viaduk (jembatan di atas jalan) milik PDAM.

Pipa yang ada di viaduk itu, ujar Kepala Satuan Kerja Metropolitan III Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Winarto, sejak dulu mengalirkan air dari Bogor ke Istana Presiden di Jakarta.

Bangunan lain di Jalan Raya Bogor rata-rata sudah berganti dengan bangunan lebih baru. Pohon asem di kanan-kiri jalan kini banyak yang hilang. Rata-rata hanya sisi jalan bersebelahan dengan Kalibaru yang masih ditumbuhi mahoni dan asem. Di seberangnya, pepohonan berganti menjadi bangunan.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/16/080300227/jalan.raya.bogor.dari.pangkalan.kuda.hingga.laksa.lezat

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>