Mengemas Tradisi Berburu Paus

DENGAN menggunakan paledang (perahu tradisional berlayar anyaman daun pandan), 10 pria pemburu paus mendekat sasaran. Di depannya terlihat rombongan paus jenis koteklema. Seorang lamafa, orang yang bersenjata tempuling, siap meluncurkan senjata tersebut ke paus.

Begitu jarak paledang dengan paus semakin dekat dan dapat dijangkau, pendayung berteriak ”tuba-tuba” (tikam) untuk memberikan semangat kepada lamafa untuk segera melemparkan tempuling ke paus. Lemparan disertai gerakan melompat dari depan paledang.

Tempuling adalah tombak dari bambu yang panjangnya sekitar 4 meter, dilengkapi mata tombak dari besi sepanjang 30 cm. Pada ujungnya diberi ikatan tali yang cukup kuat agar dapat digunakan untuk menarik badan paus yang berhasil ditombak.

Itulah tradisi lefa yang dikemas dalam bentuk atraksi laut perburuan paus oleh warga Lamalera, Senin (31/10/2016).

Atraksi itu digelar untuk menyambut kedatangan Deputi Bidang Sumberdaya Manusia, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Maritim Safri Burhanuddin, dan pejabat Bupati Lembata Pieter Manuk yang berkunjung ke Lamalera.

Perjalanan dari Dermaga Loweleba, pusat kegiatan di Pulau Lembata menuju Desa Lamalera, ditempuh dengan kapal cepat selama sekitar 1,5 jam. Jika melalui daratan, jarak itu ditempuh hampir tiga jam.

Tradisi perburuan paus ini sudah dilakukan penduduk Lamalera sejak beberapa abad lampau. Carolus, salah satu lamafa, menuturkan tradisi berburu paus ini sudah turun- temurun sejak nenek moyang warga setempat. Tradisi ini pada gilirannya menjadi sumber penghasilan warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

”Saya sejak kecil ikut paledang untuk mengambil paus di laut. Kami tak berburu, tetapi kami mengambil kiriman leluhur,” ujarnya. Hal yang sama dilakukan Markus, warga Lamalera yang mendayung paledang sejak usia tujuh belas tahun, hingga kini di usia 84 tahun.

Warga Lamalera, menurut Bona Beding, pegiat sosial budaya Lamalera, kehidupan warga setempat amat terikat dengan budaya lefa.

Ia pun mengkhawatirkan, jika lefa dijadikan sebagai bagian atraksi wisata, akan ada nilai-nilai spiritualitas yang menghilang dari masyarakat. Pasalnya, budaya lefa tersebut merupakan budaya yang hidup dalam masyarakat dan bukan budaya yang dipertontonkan.

”Pariwisata sebagai lokomatif ekonomi bisa mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat di Lamalera. Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu membicarakan secara lebih dalam lagi tentang budaya lefa agar tidak tergerus oleh kepentingan apa pun, termasuk pariwisata,” ujarnya.

Dr Blajan Konradus, pengajar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, Kupang, mengatakan, masyarakat Lamalera diperkirakan berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/05/163400627/mengemas.tradisi.berburu.paus

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>