Menjaga Subak, Memuliakan Peradaban

SUATU siang menjelang sore di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, pertengahan bulan ini. Sinar matahari yang terik membuat udara terasa panas meskipun angin bertiup sepoi-sepoi.

Beberapa rombongan wisatawan mancanegara bersemangat menyusuri jalan menurun di tengah hamparan sawah. Mereka mengenakan sepatu kets dan tas punggung.

Jalan itu bukan pematang sawah yang sempit. Ukurannya cukup lebar ‎sehingga wisatawan bisa berjalan dengan nyaman berkilo-kilometer, mengikuti kontur sawah yang menurun hingga mencapai pura kecil di dasar persawahan.

Para wisatawan mancanegara penasaran dengan subak, sistem pengelolaan air untuk persawahan di Bali, yang tak hanya meliputi pengairan tetapi juga melibatkan ritual adat dan merangkul peran komunitas.

Rafael, wisatawan asal Polandia, merasa nyaman berada di hamparan sawan. Peluhnya bercucuran. Ia menikmati perjalanan. ”Subak terkenal di dunia. Saya suka sawah, tidak ke pantai,” ucapnya.

(BACA: Jatiluwih Jadi Ikon Pariwisata Tabanan)

Sawah di Jatiluwih memang memesona. Ratusan wisatawan mendatangi Jatiluwih saban hari. ”Pemandangan sawah di sini memang diburu wisatawan,” kata Made Kanti, pemandu wisata yang mengantar Rafael dan temannya ke Jatiluwih, pertengahan Oktober 2016.

Ketut, penjaga karcis di Subak Jatiluwih, mengatakan, setiap hari, 200-300 wisatawan mancanegara datang. Jumlahnya melonjak pada Juni-Agustus, mencapai hingga lebih dari seribu orang per hari. Jumlah itu belum ditambah dengan wisatawan dalam negeri.

Mendunia

Cerita subak mendunia karena menjadi situs warisan dunia yang dicatatkan di UNESCO pada 2012. Subak yang ditetapkan adalah Subak Jatiluwih dan belasan subak lain yang masuk dalam kawasan Catur Angga Batukaru.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).

Subak-subak itu berlokasi di Kabupaten Tabanan dan Buleleng. Pekaseh (Ketua) Subak Jatiluwih I Nyoman Sutama menjelaskan, penetapan Subak Jatiluwih sebagai situs warisan budaya dunia mendorong kunjungan wisatawan ke desa-desa bersubak. Jatiluwih juga menjadi lokasi riset dan studi lapangan peneliti dalam dan luar negeri.

(BACA: Laklak Pisang, ‘Crepe’ Asli Tabanan yang Terancam Punah)

Persoalan subak mengemuka dalam Forum Budaya Dunia (WCF) 2016 di Nusa Dua, Bali, 10-14 Oktober. Para pembicara dan delegasi dari puluhan negara datang ke Jatiluwih untuk melihat langsung subak. Pembahasan subak dikaitkan dengan ketersediaan dan fungsi air bagi kehidupan serta rekonsiliasi pertumbuhan sosio-ekonomi dengan etika lingkungan.

Semua pihak sepakat, subak harus dipertahankan. Namun, diakui tantangan yang dihadapi subak kian besar. Subak-subak terancam proyek pembangunan yang menuntut alih fungsi lahan pertanian. Pasokan air untuk pertanian yang menyusut juga menggelisahkan. ”Sawah seperti berebut air dengan permukiman,” tutur Sutama.

Di Jatiluwih, lahan pertanian mendapat pasokan air dari sejumlah sungai yang mengalir di Tabanan, antara lain Yeh Pusut, Yeh Baas, dan Yeh Ho. Air irigasi dibagi untuk mengairi tujuh kelompok subak di Jatiluwih, antara lain Subak Kedamian, Umaduwi, Kesambi, Besi Kalung, dan Gunung Sari. Luas sawah di Subak Jatiluwih mencapai 303 hektar dengan 217 anggota.

Penyusutan pasokan air membuat Ketut, warga Tabanan, mempertanyakan keberlangsungan pertanian di Bali. ”Hanya sawah yang kami punya. Namun, apakah sawah bisa menghidupi? Kami tanam padi di 50 are (satu are setara 100 meter persegi), paling banyak mendapat Rp 20 juta. Itu untuk hidup empat bulan. Menjadi petani berat,” papar karyawan swasta yang mewarisi sedikit lahan sawah dari ayahnya.

Kaum muda

Pengurus Kelompok Subak Umaduwi di Jatiluwih I Nyoman Suryanata khawatir pertanian kehilangan generasi penerus. Kaum muda semakin jarang bekerja di sawah karena bertani dinilai kurang bergengsi.

”Apakah ada anak-anak yang mau menjadi petani?” ujar Suryanata dalam forum sosialisasi tentang kearifan subak yang diselenggarakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Kantor Desa Jatiluwih, dua pekan silam.

Peserta kegiatan sosialisasi yang mayoritas adalah pelajar sekolah menengah atas di Penebel, Tabanan, terdiam, entah karena bimbang atau bingung untuk menjawab pertanyaan itu.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Sawah berundak-undak di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (10/4/2013).

Kepentingan pariwisata hanya salah satu penopang yang bisa mencegah petani ‎untuk menjual lahan. Namun, berapa rupiah dari wisatawan yang masuk ke kantong petani?

Mungkin tinggal nilai-nilai kearifan dan sejarah yang mampu membuat anak muda mau mempertahankan subak. Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria menyatakan, Jatiluwih tak hanya memiliki subak, tetapi juga warisan budaya megalitikum dari masa perundagian. Warisan budaya megalitikum ini masih disakralkan karena berfungsi dalam pemujaan.

Peninggalan itu juga memiliki makna kearifan dalam pengelolaan sumber daya lingkungan. ”Masyarakat mewarisi, memelihara, dan memanfaatkan tradisi itu untuk melestarikan lingkungan,” kata Geria. (Cokorda Yudistira/Susi Ivvaty)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Oktober 2016, di halaman 6 dengan judul “Menjaga Subak, Memuliakan Peradaban”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/01/091400427/menjaga.subak.memuliakan.peradaban

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>