Menjelajahi George Town Si Kota Tua

PAGI pukul 08.00 waktu setempat. Denyut kota tua George Town di Penang, Malaysia, masih berdetak lambat. Aktivitas warga pun belum banyak terlihat.

Sementara di antara bayangan bangunan tua yang jatuh menutupi setengah jalanan kota, burung gagak berteriak-teriak mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah.

Seperti kebanyakan kota tua Tanah Air, waktu seolah berhenti di sana. Bedanya, di George Town bangunan-bangunan yang berusia ratusan tahun masih eksis, terpelihara dengan baik, sehingga turut menentukan karakter kota. George Town pun ditetapkan oleh UNSECO sebagai ”World Heritage City”.

Eksistensi bangunan tua tersebut tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Perhatian pemerintah setempat, terlebih warga kota yang siaga memelihara, jelas menghambat material bangunan rusak karena zaman.

Bangunan-bangunan tersebut pun seolah membalas balik perhatian warganya. Keindahan dan keelokan bangunan tuanya terpancar dan menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA George Town di Penang, Malaysia.

Dari aktivitas wisata tersebut, denyut kota akhirnya terpelihara. Ekonomi warga pun tumbuh. Hotel, penginapan, sentra kuliner, pusat cendera mata berkembang saling beriringan.

Jelang pukul 10.00, wajah kota terlihat aslinya. Pertokoan yang memanfaatkan bangunan tua dengan cat yang didominasi warna putih serta krem mulai buka. Jalan-jalan yang sebelumnya lengang mulai ramai.

Walau demikian, jalan-jalan masihlah menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi wisatawan yang ingin menikmati kota dengan berjalan kaki.

Kota yang terbangun lambat tersebut pun tidak lantas tertidur saat malam menjelang. Kedai-kedai makanan Melayu, India, serta Tiongkok bertahan hingga dini hari.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA George Town di Penang, Malaysia.

Seolah memberi ruang yang banyak bagi wisatawan untuk beristirahat dan menikmati keragaman makanan setelah lelah seharian menyelusuri kota.

Jika kita lebih peduli dengan bangunan tua, bukan tidak mungkin kota-kota di Tanah Air akan tumbuh dan berkembang melebihi apa yang dimiliki negara tetangga.

Selain mendatangkan wisatawan yang berpengaruh pada ekonomi setempat, kota pun tidak kehilangan identitas. Karena, dari bangunan tua yang dianggap renta dan kusam itu, sejarah kota bermula… (BAHANA PATRIA GUPTA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 November 2016, di halaman 32 dengan judul “Menjelajahi George Town Si Kota Tua”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/16/152200227/menjelajahi.george.town.si.kota.tua

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>