Salju Pertama Tahun Ini Di Murodo

Di Murodo aku menemukan puisi, pada salju yang turun di hari pertama tahun ini. Maka kubiarkan wajah tropisku dilumat oleh angin beku yang memecahkan garis-garis di bibir.

Aku memang sedang merasai ketabahan orang jepang, teguh menghadapi musim yang berganti, dan pintar bersiasat atas cuaca.

Di Murodo aku menikmati kopi hitam dan cerita panjang tentang negeri yang timbul tenggelam oleh badai tapi tetap gagah.

Di Murodo aku juga membaca kisah tentang gunung, laut, ladang, sandang, makanan, teknologi, juga tradisi yang mengalir jadi bait-bait puisi dengan rima dan diksi yang terjaga. Lantas dihembuskan ke delapan penjuru mata angin, agar dunia berpaling ke timur, tempat matahari merekah dengan indah, tempat mukim sebuah bangsa yang tak mudah menyerah.

Di Murodo aku memang menggigil, tapi seperti Sam Gomisawa, aku tetap tersenyum bahkan ketika hujan salju mengamuk di tepian kolam Mikuri

Kubiarkan diriku menjelma burung gagak yang melintasi angkasa Toyama dan sesekali hinggap di atap rumah-rumah penduduk. Kemudian tubuhku berubah menjadi bebek yang merenangi bendungan Kurobe. Kunikmati hidupku seperti Yoko Takebe menikmati sake, onsen, sushi dan sashimi….
segar dan penuh kejutan

Murodo, 1 November 2016

Puisi, itulah jawabannya saat saya ditanya oleh penyanyi balada Ully Sigar Rusady, oleh-oleh apa yang saya bawa dari Jepang.

Bagi saya, Jepang adalah puisi. Gunung-gunung, hutan, laut, musim dingin, musim semi, adalah keindahan yang lebih terjelaskan melalui puisi.

Pagi ini saya akan memulai membaca bait-bait puisi tentang panorama alam di sekitar Gunung Tateyama. Pukul 07.10, kami sudah berangkat dari hotel menuju Tateyama Kurobe Alpine Route. Sebuah tujuan wisata andalan di Toyama.

Menggunakan minibus jumbo, kami melaju menyusuri bukit menuju Stasiun Tateyama. Di kanan dan kiri jalan berjajar pohon-pohon tinggi denggan daun aneka warna yang didominasi daunan warna merah dan kuning.

Sekira 40 menit, kami tiba di Tateyama cable car station, untuk selanjutnya naik kereta listrik menuju Bijodaira. Di kendaraan ini kami hanya butuh waktu tujuh menit untuk sampai stasiun tujuan dengan ketinggian 977 mdpl. Inilah terminal untuk naik menuju Murodo yang memiliki ketinggian 2450 mdpl. Dari Bijodaira kami naik bus menuju Murodo.

Sama dengan pemandangan antara Toyama – Bijodaira, di samping kanan-kiri jalan juga tampak hutan asri dengan pohonan aneka warna. Di tengah perjalanan bus sempat melambat dan berhenti sejenak untuk memberi kesempatan penumpang memotret air terjun di kejauhan.

Saya jadi terkenang kisah Mushashi, sebuah novel fiksi karya Eiji Yoshikawa yang bercerita mengenai Miyamoto Musashi, pendekar pedang (samurai) Jepang paling terkenal yang pernah hidup. Saya membayangkan Musashi berkelebatan di hutan-hutan yang menghampar di lembah sambil berlatih pedang. Sementara Otsu, wanita yang mengaguminya mencarinya ke segenap penjuru.

Lamunan saya buyar saat bus melambat. Kami tiba di Murodo. Surprise, kami warga dari negeri tropis seperti menerima anugerah tak terperi saat menyaksikan salju sudah menummpuk di tepian jalan. Ya, inilah salju pertama yang turun
di Murodo tahun ini.

Segera jas saya kancing rapat-rapat dan mengenakan sarung tangan serta syal. Saya terabas udara beku minus 2 derajat celcius dari bus menuju stasiun Murodo. Awalnya kami hanya melihat-lihat salju yang turun di sekitar stasiun. Batin saya, kurang menantang kalau hanya di sekitar stasiun. Oleh karena itu, saat kawan Yoko menawari utk pergi ke kolam Mikurigaike, saya terima dengan senang hati, meski saya tak berbekal persiapan yang cukup untuk menahan hawa dingin.

Brrrr… Salju yang deras langsung menyabet muka. Lantaran tak memakai masker, kulit wajah terasa ditusuk jarum-jarum alit, sementara bibir berasa beku dan susah digerakkan untuk berkata-kata.

Setelah berjalan seratusan meter, kami sampai tujuan. Tapi olala… Danau Mikurigaike pun sudah beku. Sudah kepalang beku, kami pun sesaat berfoto di antara bangku-bangku taman yang juga telah diselimuti salju.

Sekujur tubuh telah basah oleh salju. Kami pun bergegas kembali ke stasiun untuk menghangatkan badan dan melanjutkan perjalanan ke Daikanbo (2316 mdpl).

Selain Murodo, Daikanbo juga merupakan cek poin yang menarik di Tateyama Kurobe Alpine Route. Di tempat ini terdapat tempat pengamatan dengan view point yang bagus. Daikanbo berjarak 10 menit perjalanan dengan menggunakan Trolley Bus yang digerakkan dengan listrik melalui terowongan. Kami sempat makan di sini, seraya menikmati lengkung pelangi di lembah Daikanbo. Selanjutnya kami menuju Kurobedaira.

Kurobedaira dicapai dengan menggunakan kendaraan ropeway atau kereta gantung. Jalur kereta gantung ini panjangnya 1,7 km. Tentu saja, naik kereta gantung lebih menyenangkan dibanding naik trolley bus atau cable car. Di dalam kereta gantung kita bisa melihat pucuk-pucuk pohon, lengkung cakrawala, dan juga danau di bawah sana. Tidak seperti ketika naik trolley bus atau cable car yang melewati terowongan gelap.

Kurobedaira sendiri mirip seperti Daikanbo, yang juga memiliki view point indah. Tapi kami tak lama di sini. Sebab, selain hari sudah sore, kami harus melanjutkan perjalanan ke Nagano untuk menginap di sana.

Perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta listrik yang menurun curam di dalam terowongan, sebelum akhirnya sampai di Kurobe dam. Bendungan ini menampung 200j juta m3 dan difungsikan untuk menggerakkan pembangkit listrik yang menyuplai listrik untuk daerah Kansai, Jepang Barat.

Lumayan lama kami di sini. Selain berjalan-jalan di sekitar bendungan, kami juga sempat mengitari waduk dengan kapal mesin selama setengah jam. Ongkos naik kapal 1080 yen atau setara dengan seratus ribu rupiah.

Sempat saya bertanya-tanya, kenapakah pembangkit listrik tidak nampak di skeitar bendungan. Petugas bendungan bilang,
pembangkit listrik berada di bawah tanah sedalam 200 meter.

Lalu petugas itu pun bercerita, jika musim salju tetap ada air untuk menggerakkan turbin. “Permukaannya saja yang beku,” kata Yoko menerjemahkan kalimat petugas bendungan. Luas bendungan 160 x tokyo dome. Yoko pun menambahkan,
bendungan ini dibuka 16 April sampai 30 November. Di luar itu ditutup karena salju menutupi wilayah ini.

Proses pembangunan bendungan ini selama tujuh tahun, dari tahun 1956 hingga 1863. Melibatkan 10 juta pekerja, dan yang meninggal sebanyak 171 orang.

Hari sudah mulai petang saat kami meninggalkan bendungan Kurobe menuju Ogizawa, stasiun kereta terakhir untuk kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Nagano. Pkl 17.09 kami tiba di kota Nagano. Perjalanan dari stasiun Ogizawa sekira 1,5 jam tidak kami nikmati dengan baik. Penat dan kantuk jadi satu. Oahemmmmm…. Tidur adalah pilihan yang tepat untuk menghemat tenaga untuk beberapa acara lagi di muka.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/17/080011527/salju.pertama.tahun.ini.di.murodo

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>