Sulitnya Meresapi Keindahan Sendratari Ramayana Di Uluwatu

PECATU, KOMPAS.com – Puluhan pria bertelanjang dada membentuk formasi lingkaran. Menyerukan kata “Cak! Cak! Cak! dengan serentak. Di balik mereka, surya turun perlahan. Tenggelam dengan anggun memantulkan warna jingga keemasan. Angin menerpa wajah dengan lembut, membuat saya terhanyut dalam momen magis.

Itulah yang saya rasakan empat tahun lalu, tepatnya tahun 2012 saat menonton sendratari Ramayana di komplek Pura Uluwatu, Pecatu, Bali. 

Oleh karena itu, saat saya diberitahu jadwal perjalanan familiarization dari The Anvaya Beach Resort Bali, Jumat (4/11/2016) salah satunya adalah menonton sendratari Ramayana di Uluwatu saya begitu semangat. Pikiran melayang ke momen yang membekas bagi saya empat tahun lalu.   

Saya dan teman-teman media lainnya sampai sekitar pukul 17.30 Wita di gerbang komplek Pura Uluwatu. Seperti biasa, Pura Uluwatu ramai dikunjungi oleh wisatawan dan juga penghuni lainnya, monyet-monyet lucu nan jahil.

Monyet di komplek Pura Uluwatu ini memang terkenal jahil, suka mengambil barang bawaan wisatawan. Namun hari itu, hanya terlihat satu monyet yang sedang asyik minum soft drink dari kaleng soft drink bekas wisatawan.

Tak nampak kawanan monyet lainnya, padahal saya dan teman-teman sudah siap dengan gempuran isengan monyet, dengan memasukkan aksesoris seperti topi dan kacamata ke dalam tas.

Pementasan sendratari Ramayana dan Tari Kecak di komple Pura Uluwatu, Bali.

Kami terus berjalan menuju lokasi pementasan sendratari Ramayana. Letaknya di bagian ujung komplek Pura Uluwatu. Betapa terkejut ketika memasuki lokasi pementasan, ternyata seluruh kursi penonton sudah terisi penuh.

Sekitar 1.000 penonton sudah memadati kursi penonton. Kami tak terlambat tiba sebenarnya, tetapi penonton lain sudah datang lebih awal untuk mendapat duduk tempat terbaik.  

Akhirnya saya dan teman-teman media lainnya mendapatkan kursi plastik yang sengaja ditambahkan untuk mengatasi jumlah penonton yang ramai. Kursi plastik ini berada persis di bagian barat panggung. Dengan kata lain, saya dan teman-teman duduk membelakangi matahari tenggelam. 

Tak lama kami duduk para penari kecak yang terdiri dari sekitar 50 orang pria memasuki panggung, duduk dengan formasi lingkaran. Sebelum menari, ada pendeta yang mendoakan mereka dan menyiramkan air suci. Tari kecak kemudian dimulai. Suara “Cak-Cak!” bergemuruh memberi kesan magis bagi penonton. 

Ternyata saat Tari Kecak berlangsung masih ada penonton yang terus masuk ke lokasi. Karena tempat duduk sudah penuh, penonton ini duduk di pinggir panggung. Para penari kecak terus menari dan menyanyi, tak lama pemeran Rama dan Shinta masuk ke tengah formasi penari kecak, dan menari.

Jarak yang sangat dekat antara penari dan penonton.

Saat itu, penonton yang terlambat masih terus masuk ke lokasi pementasan sendratari. Jumlahnya makin banyak. Saya akhirnya merasa terganggu, karena konsentrasi menonton buyar dengan kehadiran penonton terlambat dan jadi ikut berpikir di mana lagi mereka harus duduk, toh semua tempat hampir penuh.

Akhirnya para penari kecak terus merapatkan duduknya ke depan, memberi tempat bagi penonton yang terlambat. Lama kelamaan, nampak tak wajar. Jarak penonton dan penari kecak hanya berjarak satu langkah saja.

“Sekalian saja mereka ikut menari,” kata salah satu penonton yang rupanya juga ikut terganggu dengan ramainya penonton.  

Keadaan ini terus berlangsung di 15 menit awal tarian. Akhirnya gelombang ketibaan penonton terlambat berhenti. Lebih dari 1.000 orang menonton sendratari Ramayana hari itu. Namun belum lama menyerapi kisah Shinta yang diculik oleh Rahwana, keasyikkan saya menonton kembali terganggu.

Mulai banyak penonton yang meniggalkan tempat duduknya. Mulai dari satu, dua, lama lama jadi sepuluh kemudian jadi 20. Ada penonton yang tahu diri dengan berjalan bergegas takut menggangu penonton lain. Ada juga penonton yang justru asyik berteriak memanggil-manggil temannya untuk keluar lewat jalur masuk. Suaranya menyaingi penari kecak. 

Penonton yang lalu lalang saat pementasan sendratari Ramayana dan Tari Kecak di komple Pura Uluwatu, Bali.

Gelombang penonton yang keluar ini terus terjadi sampai akhirnya berhenti saat kemunculan penari Hanoman yang aksi kocaknya berhasil menghibur banyak penonton. Saya akhirnya berhasil fokus menonton sendratari Ramayana, di babak tiga perempat kisah sebelum final. 

Menonton sendratari Ramayana di komplek Pura Uluwatu ini nyatanya tak seindah pengalaman saat saya pertama kali menonton empat tahun lalu. Saya kemudian bertanya pada wisatawan asal Polandia yang duduk di sebelah saya, Mat. “Saya suka pertunjukannya, tapi saya kira terlalu ramai penontonnya. Padahal lucu dan menghibur pertunjukannya,” kata Mat. 

Serupa dengan Mat, Lulu dan Erwin wisatawan domestik juga mengatakan jika jumlah penonton terlalu ramai sehingga mengurangi kenikmatan menonton. 

Sedangkan Wayan, salah satu penari kecak mengatakan kalau akhir pekan memang ramai sekali pengunjungnya. “Biasanya hari Senin atau Selasa yang agak sepi,” kata Wayan saat saya tanya setelah pertunjukkan selesai.

Setelah menonton sendratari Ramayana di komplek Pura Uluwatu untuk kedua kalinya, apakah saya masih berminat menonton? Tentu iya, sendratari ini masih sama memukau dan menghibur dengan yang saya tonton empat tahun lalu.

Gerak tari masih sama luwes, busana panggung para penari masih sangat indah, bahkan hiburan dan lelucon yang disampaikan di sendratari bertambah lucu. 

Namun saya berjanji pada diri sendiri, jika saya akan menonton sendratari Ramayana lagi, saya akan datang lebih awal agar dapat tempat duduk terbaik, tak membelakangi senja. Apalagi terhalang oleh penonton yang bubar di tengah acara dan tentunya saat hari Senin atau Selasa dengan jumlah penonton yang lebih manusiawi. 

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/09/051900327/sulitnya.meresapi.keindahan.sendratari.ramayana.di.uluwatu

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>