“Surga” Wakatobi Tak Melulu Bahari

KOMPAS.com – Wakatobi adalah “surga” bagi pecinta bahari. Pantai, lautan jernih, dan terumbu karang yang masih utuh, merupakan suguhan dari kerajaan laut yang teramat lezat bagi para penyelam. Namun, apakah hanya penyelam yang bisa menikmati “surga” ini?

“Wakatobi itu (bak) surga di zamrud khatulistiwa, tak cuma buat mereka (pecinta aktivitas bahari),” ujar Hilda B Alexander, wartawati yang juga gemar berkelana, Senin (31/10/2016).

Hilda pun bercerita, pesona Wakatobi juga datang dari keramahan alam dan warga setempat. Menurut dia, pendapat itu bukan hanya datang dari dirinya.

Nice place and people around here are friendly,” kutip Hilda dari Claudia Mauridfz, peneliti BlueVentures asal Guatemala yang dia temui saat bertandang ke Kaledupa, akhir bulan lalu.

(Baca juga: November-Desember ke Wakatobi, Jangan Ketinggalan Festival Ini!)

Kaledupa adalah satu pulau yang menjadi bagian penggalan nama Wakatobi. Tak banyak orang tahu, Wakatobi merupakan singkatan dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, empat pulau utama dari kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.

Nah, yang juga tak semua orang tahu, Wakatobi punya pula banyak hal menarik selain soal bahari. Sebut saja soami, siapa pernah dengar sajian kuliner tersebut? Atau terbayang suguhan bulu babi di meja makan?

KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Menu kuliner lokal yang dapat dinikmati para pelancong di Wakatobi, yaitu soami, kukusan bulu babi, kosea no-kaudafa, dan kentanidole.

“(Soami) ini kukusan singkong, jadi makanan pokok dan sumber karbohidrat warga. Bulu babi dikukus tanpa bumbu jadi protein hewani. Lalu, ada kosea no-kaudafa atau sayur daun kelor, sambal dabu-dabu, dan kentanidole alias nugget ikan,” cerocos Hilda soal salah satu menu santapannya saat di Wakatobi.

Untuk benar-benar kenal Wakatobi—tak cuma dari sisi bahari—beragam festival sudah ditetapkan pemerintah sebagai agenda rutin. Kekayaan budaya dan kuliner sudah pasti jadi menu dalam festival-festival ini.

(Baca juga: Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata?)

Sampai akhir 2016, masih ada Festival Tomia pada 3-6 November 2016 serta Wakatobi Wonderful Festival and Expo (WWFE) pada 1-3 Desember 2016.

“WWFE merupakan puncak semua festival selama setahun,” kata PIC Destinasi Wakatobi dari Kementerian Pariwisata, Arie Prasetyo, Rabu (12/10/2016).

Bagi pegiat sosiologi dan pendidikan, Wakatobi punya pula sejumput cerita soal upaya memastikan anak-anak nelayan mendapatkan pengajaran. Soal ini, pelancong atau peneliti bisa menyambangi Desa Bajo Mola.

Di desa itu, ada Sekolah Maritim, khusus untuk anak-anak nelayan yang putus sekolah. Berbentuk rumah panggung seperti permukiman warga, sekolah ini memiliki karamba sebagai bagian dari pengajaran.

Pada jam istirahat, siswanya diizinkan memancing ikan untuk ditaruh ke dalam karamba tersebut.

“Nantinya, anak-anak yang berprestasi (di kelas) berhak mendapatkan hasil penjualan ikan (yang terkumpul) di karamba itu,” kata Pembina Sekolah Maritim, Samran, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (8/8/2015).

Masih soal belajar, Desa Bajo Mola juga menjadi peluang bagi pelancong belajar ilmu perbintangan dari penduduk lokal, yaitu Suku Bajo. Suku ini sedari dulu dikenal akrab dengan ilmu falak alias astronomi, sebagai bagian dari bekal mereka yang memang tumbuh dan besar di laut.

Mengemas “surga”

Sayangnya, pesona Wakatobi memang masih lebih banyak dinikmati para penyelam dan wisatawan “serius”. Maklum, sebelum Oktober 2016 tak banyak akses yang bisa menjadi cara orang datang ke sana.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Jejak yang ditinggalkan saat surut air laut pada pasir pantai di Pantai Patuno, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (20/6/2016).

Baru setelah kepulauan tersebut ditetapkan sebagai destinasi prioritas, beragam program dirancang untuk lebih mengenalkan dunia pada sang surga bawah laut di khatulistiwa ini.

“Kami butuh Rp 1,2 triliun untuk membenahi kawasan ini,” kata Bupati Wakatobi, H Arhawi, dalam salah satu perbincangan dengan Hilda.

Setahap demi setahap, infrastruktur dari kabupaten yang belum genap berusia 13 tahun ini ditata ulang. Bandara Matahora, misalnya, bersolek menyambut datangnya penerbangan reguler.

Kabar baik datang dari Arie. Maskapai Wings Air, kata dia, sudah memastikan jadwal penerbangan reguler ke sini.

“(Rute) Makassar-Wakatobi, direct flight, tujuh kali seminggu setiap hari mulai akhir Oktober 2016,” sebut Arie.

Garuda Indonesia, lanjut Arie, sudah berencana pula membuka rute Denpasar-Wakatobi. “(Rencananya) dimulai pada akhir 2016,” sebut dia.

KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Bandara Matahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Akses dan infrastruktur jadi fokus awal pembenahan Wakatobi karena beragam hal. Dari sisi pesona bahari, di kawasan perairan ini terdapat setidaknya 750 dari 850 jenis terumbu karang yang ada di dunia.

Sampai-sampai, Pulau Hoga yang ada di antara pulau-pulau utama Wakatobi sudah menjadi basis penelitian Proyek Wallacea. Di sini para peneliti dunia kerap berkumpul meneliti kekayaan terumbu karang dunia yang dipantau melalui pencitraan satelit.

Tak kurang dari oseanografer dan penemu alat selam self-contained underwater breathing apparatus (scuba), Jacques-Yves Cousteau, mengakui Wakatobi adalah surga.

“Dia (Cousteau) menyebutnya underwater nirvana,” ujar Yvone Patty, Component Manager Destination Marketing Swisscontact, kepada Kompas, Kamis (15/9/2016).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Penyelam menikmati keindahan bawah laut di Pantai Waha, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (24/6/2016).

Buat pariwisata, penetapan Wakatobi menjadi destinasi prioritas pun punya target besar. Pada 2016, kunjungan wisatawan diharapkan menembus angka 25.000 orang, naik 8.000 kunjungan dibandingkan pada 2015.

Kunjungan wisatawan mancanegara diharapkan terus meningkat pula. Merujuk data Badan Pusat Statistik, pada 2011 tercatat 2.274 wisatawan mancanegara menikmati “surga” Wakatobi. Angka itu melejit lebih dari dua kali lipat pada 2015, yaitu menjadi 6.626 orang.

Tantangan tentu saja tak selesai di masalah akses dan infrastruktur. Meski sudah dikenal sebagai “surga bahari”, kawasan ini juga masih kekurangan para master selam berlisensi. Bahkan, belum ada satu pun master selam berlisensi cave diving di sini, sementara potensi wisata gua bawah laut juga membentang.

(Baca juga: Garda Depan Wakatobi)

Jangan lupa, bicara pariwisata tak melulu mengurusi orang-orang yang butuh leha-leha. Saat ini, pariwisata merupakan penjuru untuk menjaga perekonomian nasional melaju, seperti paparan Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam beragam kesempatan.

Facebook Indonesia.Travel/Wonderful Indonesia Pemandangan bawah laut Wakatobi

Lagi-lagi, tak cukup bila hanya Pemerintah yang berupaya mengenalkan potensi pariwisata. Cara Hilda bercerita dan memajang gambar-gambar selama berkelana, bisa jadi contoh partisipasi orang biasa ikut mendorong pariwisata Indonesia.

Bagi Anda yang juga punya hobi serupa Hilda, bagikan saja cerita-cerita perjalanan ke destinasi nusantara lewat beragam cara, termasuk melalui media sosial. Biar lebih mengena, pasang saja tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi di setiap unggahan cerita Anda.

Khusus untuk Twitter dan Instagram, bisa disebutkan pula @ceritadestinasi di dalam unggahan. Adapun di Facebook, fan page Cerita Destinasi dapat jadi salah satu tempat memajang cerita perjalanan wisata Anda.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/03/185000127/.surga.wakatobi.tak.melulu.bahari

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>