Tiong Ohang, Kala Alam Dan Budayanya Menyapa Dari Pedalaman

MAHAKAM HULU, KOMPAS.com – Kabut masih enggan beranjak dari Diang Karing dan Diang Musing. Keduanya adalah sebutan lokal bagi dinding batu karst yang seolah menjadi benteng kampung Tiong Ohang.

Pagi itu dingin masih tersisa dari malam sepi yang baru saja berlalu. Uap panas dari secangkir kopi di Penginapan Putera Apari tak mampu menghalau enggan beranjak dari pagi yang nikmat itu.

Betapa tidak, bermalam di salah satu kampung di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Hulu ini adalah jaminan merasakan keheningan di kampung suku Dayak. Namun, geliat warga di tepi Sungai Mahakam pagi itu mampu membangkitkan semangat.

Mahakam adalah urat nadi bagi sebagian besar Suku Dayak yang tinggal di sepanjang alirannya. Sama halnya dengan hutan, sungai adalah pemberian pemilik semesta yang harus dihormati.

Tak heran, sepagi itu rutinitas harian diawali dengan berbagai ritual di sungai. Kami pun menyambar kamera, dan pergi mencari spot terbaik untuk memotret.

KompasTravel bersama tiga pejalan lainnya telah lebih dari seminggu menyusuri Mahakam Hulu. Menyaksikan fragmen-fragmen budaya dan tradisi Suku Dayak adalah tujuan perjalanan kami.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Sampan-sampan khas orang Dayak terparkir di tepi sungai Mahakam bagian hulu, Kalimantan Timur.

Dayak punya segudang kearifan yang patut diceritakan. Dan, Long Apari adalah destinasi yang patut dituju. Memasukkan kecamatan ini dalam daftar, merupakan pilihan tepat bagi pejalan yang menyukai tantangan.

Selain perlengkapan traveling yang perlu dibawa, jangan lupa pula menyediakan adrenalin yang cukup serta tenaga yang prima. Perjalanan akan dimulai dari Kota Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur.

Kapal Sungai, yang lazim disebut taxi air, menjadi pilihan utama. Butuh waktu sehari semalam untuk sampai di Melak, Kabupaten Kutai Barat. Usai kapal membongkar barang, perjalanan dilanjutkan ke Ujoh Bilang, ibu kota Mahakam Hulu. Semalam lagi diperlukan untuk sampai ke sana.

Namun suguhan pemandangan khas tepi sungai dengan segala aktivitasnya adalah jaminan perjalanan yang patut diraih. Lewati Riam Dari Ujoh Bilang atau Long Bagun, perjalanan sesungguhnya dimulai.

Adrenalin yang disediakan, akan berguna disini. Tentu menyediakan wadah waterproof adalah tindakan bijak. Apalagi untuk peralatan yang anti air. Ada dua pilihan untuk menuju ke Tiong Ohang, menumpangi speed boat dengan kecepatan hingga 400 PK, atau memilih menggunakan long boat yang lebih lambat setengah waktu dari speed boat.

Dengan speed boat waktu tempuh sekitar 4-5 jam, dan untuk long boat dua kali lipatnya. Melawan arus aliran sungai dari hulu, adalah petualangan di sungai yang penuh sensasi. Baik speed boat maupun long boat, akan melewati beberapa arus besar kala bertemu riam.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Rumah penduduk yang khas di Tiong Ohang, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Kelihaian motoris yang mengemudikan alat transportasi utama di Sungai Mahakam ini adalah kuncinya. Melawan arus upstream dan menyelinap di antara batu-batu raksasa adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Beberapa penumpang bersama kami, tak tahan untuk tidak berteriak. Di kala permukaan air sedang naik, beberapa riam akan menjadi ganas. Pun, rintangan kayu-kayu raksasa yang hanyut adalah risiko berikutnya.

Namun saat air surut karena kemarau, perjalanan juga akan terhalang dengan permukaan batu yang menonjol dan siap menghantam badan speed boat. “Yang paling pas, jika airnya sedang-sedang saja,” ujar Alex Tekwan, motoris berpengalaman yang membawa kami.

Kepenatan tubuh karena terbanting-banting selama perjalanan, niscaya akan terbayarkan dengan pemandangan yang dilewati. Dinding batu raksasa dari batuan karst, hutan yang masih hijau, burung-burung yang melintas, serta beberapa air terjun, sulit untuk tidak membuat kita kagum.

Apalagi jika telah tiba di Tiong Ohang atau Tiong Bu’u, dua kampung berhadap-hadapan yang hanya dipisahkan oleh Sungai Mahakam. Walau berada di bagian wilayah perbatasan dengan Malaysia dengan akses yang sulit, kampung ini begitu tertata.

Keramahan warga juga adalah sebuah sapaan yang menghangatkan. Sungguh kami jatuh cinta dengan suasana kampung ini. “Stigma soal orang Dayak yang menakutkan sirna saat kami diperlakukan dengan penuh rasa persahatan,” ujar Ria Aziz Bazoeki, traveler wanita yang ikut rombongan kami.

Seperti pagi itu, kamera kami beradu merekam setiap moment yang ada. Dinamika warga Tiong Ohang dan Tiong Bu’u di tepi sungai pagi itu adalah sajian khas Indonesia, alam adalah sahabat.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Anak sekolah melintas di jembatan gantung yang menghubungkan kampung Tiong Ohang dan Tiong Bu’u di Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Puluhan ces (sampan khas Dayak) terparkir di tepi, sementara beberapa lainnya hilir mudik. Para bocah menyibukkan diri dengan mandi di atas dermaga apung yang sekaligus tempat tambatan ces, atau di atas karangan (bebatuan).

Sementara para ibu, berjibaku dengan cucian mereka. Dan pria-pria dayak bersiap pergi ke ladang atau mengais rezeki dengan menebar jala. Tak sulit mendapat ikan di sini.

Generasi Terakhir Yang Tersisa

Saat tiupan angin mulai menghalau kabut di Diang Karing dan Diang Musing, dan berganti dengan semburat merona kala mentari terbit. Saat itu pula kehidupan lain terjadi di jembatan gantung yang menghubungkan Tiong Ohang dengan Tiong Bu’u.

Jembatan yang bergoyang jika dilewati ini, seolah menjadi penyaksi semangat bocah-bocah yang tadinya mandi di sungai untuk bergegas pergi ke sekolah mereka. Pendidikan bagi orang Dayak adalah kewajiban.

Di sini, walau berada di pedalaman, pendidikan hingga ke sekolah lanjutan atas telah tersedia. Dan menyaksikan mereka lalu lalang di jembatan gantung itu, adalah sebuah pemandangan yang sulit di dapat di daerah lain di Indonesia.

Apalagi latarnya adalah dinding batu karst dengan warna putih yang kontras dengan hutan di sekitarnya. Menyapa para bocah saat mereka bepergian ke sekolah ini, bagaikan menyampaikan ucapan semangat kepada para pewaris tradisi dan budaya.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Anak sekolah melintas di jembatan gantung yang menghubungkan kampung Tiong Ohang dan Tiong Bu’u di Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.

Betapa tidak, mereka adalah penerus Dayak Penehing, salah satu sub suku dari ratusan sub suku Dayak yang ada di Kalimantan. Dayak Penehing dengan empat anak sub sukunya mendiami Kecamatan Long Apari, termasuk di Tiong Ohang.

Kabut pun lenyap, langit berubah menjadi benderang dengan warnanya yang biru tak berpolusi. Mega tersapu tipis dan membakar semangat kami melanjutkan eksplorasi kedua kampung ini.

Lalu kami pun tenggelam dalam kisah-kisah heroik para pendahulu Dayak Penehing saat melawan suku lainnya. Kisah yang tersisa dari tradisi ngayau yang telah sirna. Tradisi mempersembahkan kepala orang lain sebagai bantalan kala seorang dari golongan bangsawan meninggal.

Kisah-kisah yang kini hanya bisa dirasakan lewat motif-motif ukiran yang terserak di berbagai sudut kampung. Mulai dari anak tangga, tiang rumah, atap, terali, patung-patung, dinding kuburan, penutup kepala, tato, tas, gagang mandau, gendongan bayi dan terlebih di lamin adat.

Motif ukiran yang menyiratkan penghormatan terhadap alam. Lalu kami pun mendatangi dan menyapa para generasi terakhir pewaris cuping telinga panjang. Sebuah tradisi yang menyimbolkan kecantikan para perempuan dan status sosial masa lalu, dengan memasang puluhan hisang (anting bulat) di cuping telinga yang dilubangi.

Tradisi yang dimulai sejak bayi ini, dan menambahkan anting yang lumayan berat secara berkala, membuat cuping telinga perempuan berhisang menjadi memanjang, bahkan hingga melewati dada.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Opin Serot, salah satu perempuan bercuping telinga panjang yang masih ada di Mahakam Hulu, Kalimantan Timur saat difoto di rumahnya di Tiong Ohang, Opin melepas hisangnya.

Sayang, tradisi unik yang hanya ada pada beberapa Suku Dayak ini kini berada di ujung kepunahan. Generasi sekarang memilih tidak lagi meneruskan salah satu kekayaan budaya Nusantara ini. Berbagai alasan dikemukakan, salah satunya karena malu.

“Keprihatinan akan ancaman kepunahan tradisi kuping panjang ini, membawa saya mendatangi pedalaman Mahakam Hulu. Dalam waktu dekat, saya akan menerbitkan buku Telinga Panjang sebagai bagian dari usaha mendokumentasikan warisan budaya yang sebentar lagi akan punah ini,” ujar Ati Bachtiar, penulis buku yang juga ikut dalam rombongan kami.

Tiong Ohang adalah sebuah bagian dari episode menjelajahi Indonesia yang kaya dengan pesona alam dan budayanya. Sejatinya, pesona itu menjadi bagian dari kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa.  

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/08/051200527/tiong.ohang.kala.alam.dan.budayanya.menyapa.dari.pedalaman

Be the first to leave a comment. Don’t be shy.

Join the Discussion

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>